|

Cahaya Baru di Cisayong: 60 Santri Nurul Falah Sambut Pertengahan Ramadhan dengan Mushaf Al-Qur’an Layak

Remove term: wakafalquran wakafalquranRemove term: pesantrennurulfalah pesantrennurulfalahRemove term: tasikmalayaberbagi tasikmalayaberbagiRemove term: laporanramadhan2026 laporanramadhan2026Remove term: yayasansaranaberbagi yayasansaranaberbagiRemove term: sedekahonline sedekahonlineRemove term: santripenghafalquran santripenghafalquranRemove term: infotasikmalaya infotasikmalayaRemove term: amaljariyah amaljariyahRemove term: beritafilantropi beritafilantropiRemove term: ramadhanberkah ramadhanberkahRemove term: wakafmushaf wakafmushafRemove term: berbagitakjil berbagitakjilRemove term: zakatdanwakaf zakatdanwakafRemove term: generasiqurani generasiquran

SARANA BERBAGI – Gema ayat suci Al-Qur’an terdengar lebih khusyuk di Pesantren Yayasan Nurul Falah, Cisayong, Tasikmalaya. Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan, sebuah perubahan besar terjadi pada keseharian para santri penjaga kalamullah di sana.

Jika sebelumnya para santri harus berjuang dengan lembaran mushaf yang kuning, rapuh, bahkan banyak ayat yang hilang, kini pemandangan itu berganti. Melalui amanah kebaikan para donatur yang disalurkan melalui Yayasan Sarana Berbagi, sebanyak 60 paket wakaf Al-Qur’an baru telah sampai ke tangan mereka.

Program pendistribusian ini menjadi titik balik bagi semangat belajar para santri. Selama ini, kendala fisik mushaf yang rusak seringkali menghambat proses hafalan mereka. Kini, dengan mushaf yang utuh dan layak, tak ada lagi cerita hafalan yang terputus di tengah jalan.

“Setiap ayat yang mereka lantunkan menjadi doa tulus bagi para donatur. Kami percaya, memuliakan lisan para penghafal Al-Qur’an adalah salah satu jalan terbaik menjemput keberkahan di bulan mulia ini,” ujar perwakilan Yayasan Sarana Berbagi di lokasi penyaluran.

Misi Kemanusiaan yang Belum Usai

Meski senyum telah terukir di Cisayong, Yayasan Sarana Berbagi menegaskan bahwa perjalanan ini masih panjang. Di berbagai sudut pelosok lainnya, masih banyak madrasah dan pesantren yang memiliki nasib serupa—bertahan dengan fasilitas seadanya di tengah semangat ibadah yang membara.

Memasuki fase 10 malam terakhir Ramadhan, Yayasan kembali mengajak masyarakat untuk meluaskan manfaat. Fokus bantuan kini tidak hanya pada pengadaan mushaf Al-Qur’an, tetapi juga sedekah takjil untuk membantu memenuhi kebutuhan berbuka puasa bagi warga dhuafa dan santri yang hidup dalam keterbatasan.

Ramadhan kian menepi, namun peluang untuk menanam kebaikan abadi masih terbuka lebar. Melalui sinergi wakaf dan sedekah, setiap butir kurma yang menghapus dahaga dan setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca akan menjadi aliran pahala jariyah yang tidak akan terputus.

Baca Juga  Kehangatan Kasih Sayang Menyentuh Panti Asuhan Al Hidayah: Penyaluran Beras Meringankan Beban Yatim

Mari manfaatkan sisa hari di bulan penuh berkah ini untuk mengukir lebih banyak senyum di wajah mereka yang membutuhkan. Karena sekecil apa pun kebaikan yang kita tanam hari ini, akan menjadi saksi pembela kita di akhirat kelak.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *